Follow Us @soratemplates

Thursday, March 17, 2016

ENAM BULAN

9:41 AM 0 Comments



Enam bulan. Enam bulan yang lalu ada yang pergi jauh sangat jauh dan pergi untuk tidak kembali. Enam bulan yang lalu ada yang kehilangan. Enam bulan yang lalu ada yang menangis lirih. Enam bulan lalu ada kekecewaan. Yaa, tepat enam bulan yang lalu 17 September 2015. Untuk mencapai enam bulan bukan perkara mudah. Enam bulan belajar tanpa kehadirannya, belajar merelakan, belajar menerima. Enam bulan dengan banyak cerita baru yang harus ku ceritakan padamu lagi.

Jangan tanyakan apakah ku merindukannya. Seperti apapun ku merindukannya, Ibu tidak akan kembali dengan sebuah pelukan. Seperti apa yang terjadi ketika seseorang telah pergi menemui yang Kuasa? Apakah Ibu juga dapat merasakan rindu, marah? 

Ibu, rindukah engkau dengan setiap omelan mu dulu ketika aku susah sekali untuk makan sayur atau bahkan untuk meminum segelas susu. Rindukah engkau dengan semua celotehan ku tentang semua kegiatan sekolahku. Rindukah engkau dengan semua alasan ku karena aku tidak mau minum obat atau vitamin. Rindukah engkau dengan semua kejahilanku ketika hanya berdua saja di dalam rumah. Rindukah engkau dengan semua kegiatan konyol kita agar bapak tidak marah. Tidak rindukah engkau menemaniku kedokter gigi. Tidak rindukah engkau menelpon ku tiap hari bahkan tiap menitnya. Tidak rindukah engkau memanggilku dengan sebutan anak cantik. Tidak rindukah engkau memelukku erat karena listrik tiba-tiba padam. Tidak rindukah engkau menemaniku ke kamar mandi tengah malam kerena ketakutanku. Rindukah engkau dengan semua kegiatan-kegiatan kita. Ku pikir kita masih bisa melakukan semuanya untuk beberapa tahun kedepan, tapi ternyata hanya 19 tahun saja. Ku pikir engkau akan menemaniku berfoto dengan menggunakan Toga, medampingiku saat aku resmi menjadi milik seseorang. Kadang aku iri melihat mereka yang masih bisa jalan dan berbicara dengan sosok sepertimu.

Ibu, apakah engkau melihat semua kegiatan ku dari sana? Sudah begitu banyak cerita yang ingin sekali ku bagi denganmu seperti dulu. Semua kesenangan, kesedihan, kekecewaan ku pada mereka. Engkau pasti tertawa jika ku bercerita atau melihatku sedang menyukai seseorang sekarang. Engkau pasti mengomel jika tau atau melihat badanku yang masih saja kecil tidak gemuk-gemuk. Engkau pasti marah jika tau atau melihatku ku sakit karena tidak mau minum vitamin. Engkau pasti senang jika tau dan melihatku punya teman-teman yang sangat sayang padaku.

Ibu, jangan khawatir dengan ku di Jogja. Engkau telah kenal dengan mereka teman-teman ku yang dekat denganku. Engkau sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Intan, Dona, Belgis. Iya, mereka yang selalu bisa mebuat ku tertawa lepas seakan-akan aku masih memiliki mu sampai saat ini walaupun kenyataannya tidak. Jika engkau melihatnya dari sana, ku yakin engkau bakal tersenyum lebar dan jangan risaukan mereka yang tidak menyukai ku.

Ibu, maaf kalau engkau melihatku ku masih saja menangis dalam kondisi tertentu. Itu karena ku sudah tidak bisa menahannya, sudah tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kesedihanku walaupun aku sudah bercerita pada mereka. Mereka hanya sekedar tau dan mengerti saja tapi tidak benar-benar tau dan mengerti. Aku selalu berusaha berada dalam keramain, bersama teman-teman di kampus, mencari kegiatan agar pikiranku teralihkan. Dalam kesendirian, aku begitu mudah terbawa emosi karena mengingatmu, mengetahui kalau engkau memang sudah tidak ada lagi.

Ibu, engkau pasti lebih mengetahui kondisi bapak. Yang ku tau bapak begitu kuat buatku, bapak dapat mengatasi semua walaupun ku tau di hari-hari awal kepergianmu bapak sangat terpukul. Oh ya, sekarang bapak semua yang menggantikan posisi Ibu. Bapak begitu rajin menelponku tiap hari seperti yang dulu engkau lakukan. Yang dulu aku bercerita masalah kegitanku denganmu sekarang aku bercerita dengan bapak, walaupun tidak bisa sebebas bercerita denganmu.

Ibu, mungkin aku tidak sekuat apa yang engkau tau dan orang lihat. Begitu mudah aku tertawa tapi begitu mudah juga aku bersedih. Tangisku masih saja pecah jika mengingatmu, membayangkan engkau mengusap rambutku. Aku masih saja iri dengan mereka yang masih bisa bercengkrama dengan sosok sepertimu. Sudah setengah tahun engkau pergi tanpa kabar sedikitpun, aku tidak pernah tau bagaimana engkau di sana, yang ku lakukan hanyalah mengirimkan doa-doa untukmu agar engkau bahagia di sana. Jika aku masih berkesempatan bertemu denganmu, peluklah aku sampai aku tertidur dipangkuanmu. Lantunkan lagu untukku yang dulu engkau lakukan ketika aku susah untuk tidur. Marahlah padaku ketika aku susah untuk minum obat, minum susu dan makan sayur. Tersenyumlah padaku ketika engkau menerima kiriman hasil akademikku yang baik. Hujani aku dengan semua cinta dan kasih sayangmu serta puasakan aku dengan perhatian-perhatian kecil mu. Tapi aku tau itu tidak akan bisa lagi.


“Jangan pernah bersedih terlalu lama saat ibu tidak lagi mendampingimu, bagaimanapun kamu tetap harus melanjutkan hidupmu. Duniamu tidak boleh berhenti berputar hanya karena ibu tidak lagi bersamamu. Semua manusia di dunia akan melewati setiap proses ini, dan ibulah yang mungkin harus melewatinya mendahului kamu. Jangan pernah takut ditinggalakn oleh ibu, ibulah yang akan selalu mendoakanmu dari atas sana, dari dunia yang berbeda. Raga ibu yang memang tidak ada lagi denganmu sepeti dulu, tapi cinta ibu yang akan selalu ada dan hidup di dalam hatimu”