Follow Us @soratemplates

Monday, September 17, 2018

TIGA TAHUN

10:00 PM 0 Comments
(Maaf, thumbnail-nya pecah.
Tapi kalau foto di klik tidak pecah)
September…

Aku suka September dan kata orang-orang September itu ceria. Banyak hal dalam hidupku terjadi di bulan September. Aku punya seseorang perempuan hebat yang membuat kamu bisa mengenalku sampai saat ini. Iya, dia adalah orang yang aku sebut ibu hingga saat ini. Tepat 2 September, Allah menghandirkannya untuk menjadi ibuku.

Aku tidak benci September dan kata orang-orang Desember itu kelabu bukan September. Setelah Allah menghandirkannya di bulan September tapi Allah juga mengambilnya kembali di bulan September. Tepat tiga tahun yang lalu, dihari Kamis, 17 September 2015, pukul 22.00 WITA.

Akhirnya tiga tahun. Sebuah kepergiaan yang tidak akan kembali lagi. Tiga tahun yang panjang, yang membuat banyak perubahan. Tiga tahun yang selalu merindu. Tiga tahun yang terus belajar merelakan, menerima. Tiga tahun yang penuh dengan banyak cerita, yang seharusnya ku ceritakan padamu lagi, ibu.

Kira-kira apa yang terjadi ketika seseorang telah pergi menemui yang Kuasa? Apakah mereka dapat merasakan rindu, marah juga?

Kata Allah, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya“ (Q.S Ali ‘Imran: 145). Berarti Allah mengizinkan ibu untuk menemaniku hanya sampai saat aku berumur 19 tahun saja?

Lalu Allah berkata lagi. “Aku tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya” (Q.S Al-Baqorah: 286). Berarti Allah percaya kalau aku sanggup kehilangan ibu saat itu hingga saat ini?

Setelah itu Allah berkata lagi, “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangalah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (Q.S At-Taubah: 40). Berarti Allah selalu ada, selalu bersama aku saat ini dan seterusnya?

Ibu, Allah itu baik ya. Dia mengambilmu dan memberikanku kesedihan, tapi tidak lupa juga Dia menggantinya dengan orang-orang baru yang sangat menyanyangiku saat ini dan memberikan banyak kebahagian didalamnya. Jadi, ibu tidak perlu khawatir lagi soal bagaimana keadaanku saat ini.

Ibu, tapi maaf kalau engkau masih sesekali melihatku ku menangis dalam kondisi tertentu. Bukan, bukan karena aku belum merelakanmu, tapi terkadang ada hal-hal tertentu yang tidak bisa tejelaskan lagi. Kadang terpikir jika ibu masih ada, mungkin kita akan selfie bersama, membuat boomerang ala anak-anak jaman sekarang. Juga seandainya ibu masih ada, mungkin banyak hal-hal berat yang bisa dilalui dengan lebih ringan. Dan mungkin akan lebih banyak lagi hal berbeda yang terjadi.

Oh iya bu, Allah juga bilang seperti ini, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S Al-Baqarah: 186).

Kalau begitu, akan aku katakan kepada Allah, kalau ibu adalah ibu yang sangat baik, ibu yang hebat. Ibu yang selalu berusaha meredam egonya untukku dan bapak. Ibu yang terus berjuang hingga saat diujung hidupnya yang terpikirkan hanyalah bagaimana aku selanjutnya. Lalu, akan aku mintakan lagi pada Allah untuk memberikan ibu tempat yang sangat-sangat baik di sana. Walaupun aku tidak tahu bagimana akhirnya di sana, tapi tidak mengapa. Aku akan terus memintakannya untuk ibu.

Penyesalan terbesarku adalah tidak ada saat ibu koma dan akhirnya pergi, bahkan untuk mengetahui kabar itu saja aku tidak tahu. Dan akhirnya yang kudapatkan hanya tinggal raga dingin tanpa nyawa. Karena itu akan ku katakan juga pada Allah, jika aku masih berkesempatan bertemu denganmu, aku ingin sekali dipeluk sampai aku tertidur dipangkuanmu. Lantunkan lagu untukku yang dulu engkau latunkan ketika kecil aku susah untuk tidur. Marahlah padaku ketika aku susah untuk minum obat, minum susu ataupun makan sayur. Tersenyumlah padaku ketika engkau menerima kiriman hasil akademikku yang baik. Hujani aku dengan semua cinta dan kasih sayangmu serta puasakan aku dengan perhatian-perhatian kecil mu. Ahhh, sungguh merindu.

Seseorang pernah berkata padaku, kalau aku tidak boleh bersedih terlalu lama saat ibu tidak lagi mendampingiku, bagiamanapun aku tetap harus menajutkan hidupku. Duniaku tidak boleh berhenti berputar hanya karena ibu tidak lagi bersamaku. Semua manusia di dunia akan melewati setiap proses ini, dan ibuku lah yang mungkin harus melewatinya mendahuli aku. Aku tidak boleh takut ditinggalkan oleh ibu, ibulah yang akan selalu mendoakanku dari atas sana, dari dunia yang berbeda. Raga ibu yang memang tidak ada lagi dengaku seperti dulu, tapi cinta ibu yang akan selalu ada dan hidup di dalam hatiku.

Dan terimakasih kamu, kalian yang sudah menambah kebahagianku sampai saat ini. Walaupun akhirnya ada yang pergi meningalkan luka, tapi tidak mengapa. Kata ibu, kamu, kalian itu baik. Itu sudah cukup.


Masih di Yogyakarta, 17 September 2018


Sunday, September 2, 2018

Wednesday, August 22, 2018

Tuesday, July 10, 2018

Thankyou💕

9:19 PM 0 Comments

Mungkin ini akan jadi tulisan terakhir ku tentang kamu. Bukan karena aku lupa, tapi sudah cukup banyak tulisanku yang menggambarkan dirimu dan ada salah satu orang yang berpengaruh buatku, yaitu bude. Jika saja keyboard laptop ku hidup, mungkin dia sudah hafal aku akan menuliskan apa.

Aku tidak tahu akhirnya akan jadi seperti apa nanti. Mungkin nanti aku bisa membaca tulisan-tulisanku lagi di ruang keluarga bersamamu sembari tertawa mengingat apa yang sudah terjadi dulu. Atau mungkin nanti aku membacanya sendiri di kamar saat sepi tengah malam dimana semua sudah tertidur nyenyak. Karena itu, aku tidak akan menghapus semua tulisanku tentangmu. Biarkan ini menjadi ceritaku dimasa depan.

Aku tidak tahu pasti apa mungkin kamu pernah membaca semua tulisanku ini. Tapi kalau kamu pernah membacanya, aku tidak tahu lagi apa yang kamu pikirkan saat itu. Kalau saja bisa ku ulang waktu, aku tidak mau mengenalmu, aku tidak mau akrab denganmu, aku tidak mau jatuh hati padamu. Tapi waktu tidak dapat ku ulang dan aku bersyukur tentang itu, karena akhirnya aku bisa mengenalmu, lalu akrab denganmu sampai akhirnya aku jatuh hati padamu.

Aku mengenalmu saat ibu masih ada, lalu tiba-tiba ibu pergi selamanya dan juga kamu perlahan berubah, menjauh, lalu hilang. Kalian sama-sama pergi, tapi bedanya ibu pergi meninggalkan cinta tapi kamu pergi meninggalkan luka. Tidak mengapa. Kata ibu kamu baik. Itu sudah cukup.

Bagaimana kabarmu sekarang? Kamu tinggal di kota mana? Pekerjaanmu bagaimana? Sudah menelpon ibu hari ini?

Kalau kamu membacanya saat ini, tidak usah buru-buru menggambil handphone untuk menghubungiku lalu menjawab pertanyaanku. Karena kamu harus mencari lagi chat terakhirku yang mungkin sudah sangat jauh dibawah atau bahkan terhapus. Kamu hanya cukup menjawabnya dalam hati dan biarkan selanjutnya Allah yang menyampaikannya padaku.

Terakhir, terimakasih.