Follow Us @soratemplates

Thursday, January 17, 2019

no title~

9:23 PM 1 Comments


Kata Allah, Dia itu pencemburu pada hambanya. Aku takut, ketika meletakkan cinta tidak pada tempatnya, lalu Allah mencemburui itu. Dan seketika Allah mengambil semuanya dari ku.

Kalau begitu, akan ku katakan pada Allah, kalau Dia tidak perlu khawatir. Sebaik-baiknya cinta adalah rasa cinta kepada Nya. Dan kamu juga tidak perlu khawatir, dekati saja Dia sang pemilik hati, sisanya biar Dia yang menjalankan dan menggerakan kita. Kamu percaya itu kan? Aku percaya.

Oh iya, kata Allah, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Kata Ibu, kamu baik. Tapi sepertinya aku belum baik. Karena itu bersabarlah sedikit lagi.

Kuncinya jangan buat Allah cemburu ya. Bahaya, kamu bisa kehilangan banyak hal. Kalau kamu mencinta, jangan berlebihan. Kalau kamu cemburu, juga jangan berlebihan. Allah tidak suka yang berlebihan.

Pernah terpikir tidak bagaimana aku, kamu, kita, dan mereka bisa sampai seperti sekarang. Padahal terpikir untuk bertemu saja tidak pernah. Takdir begitu hebat ya, bisa mempertemukan orang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Beribu-ribu kilometer, tumbuh dan besar di tempat yang berbeda, tapi akhirnya dipertemukan disatu titik yang sama. Luar biasa Allah itu.

Kalau kita belum bertemu, tidak apa-apa. Katanya untuk merasakan cinta, kita jangan terlalu dekat. Ambil jarak dan ambil waktu, maka rindu itu pasti akan tumbuh meski tidak ditanam.

Jika jarak dan waktu adalah puasa, maka pertemuan kita adalah hari rayanya.


Gdnght
Sedang singgah 5 jam 15 menit di Balikpapan + delay 1 jam 25 menit
18 Januari 2019

Monday, December 24, 2018

Salah Paham

11:46 PM 0 Comments

“Ah lagi-lagi aku gagal. Setiap usahaku tidak ada yang berhasil”
“Berdoalah”
“Sudah kulakukan. Bahkan rasa-rasanya aku sudah bosan berdoa. Doa-doaku terasa terabaikan”
***
Dalam berinteraksi dengan orang kadang sering terjadi kesalahpaham. Kita bermaksud baik tapi disangka buruk. Bermaksud A tapi ternyata B. Iya, kita sering salah paham.
Dalam berinteraksi dengan Allah juga banyak kesalah pahaman. Kamu berdoa dengan semua harapan-harapanmu. Memintanya terus menerus, tapi ternyata jalannya tidak langsung dikabulkan. Lalu kamu menyalahkan Allah, padalah kamu sajalah yang belum mengerti maksud-Nya dengan baik.
Apa jaminannya kalau doamu telah sampai? Atau jangan-jangan hanya berhenti di atap rumahmu. Atau malah hanya selesai diujung bibirmu saja.
Apa jaminannya kalau doamu mampu menggetarkan ‘Arsy-Nya? Atau jangan-jangan doamu jatuh kembali sebelum sampai ke atas sana. Atau malah doamu tertolak karena ketidaktulusan, kesalahan niat mu sendiri.
Allah sedang memberikan jalan memutar untukmu dan kamu harus menempuhnya yang pada akhirnya membuat kamu merasa Allah tidak adil, Allah tidak mengabulkan doamu. Lalu kamu memilih untuk berhenti ditengah jalan, padahal jalan itulah yang nanti membawamu pada doa dan harapan itu. Sayang sekali.
Karena ada jutaan doa yang melangit setiap waktu, setiap malam, setiap hari, dan salah satunya adalah doamu. Maka jagalah doamu, jangan bosan untuk terus menerus dipanjatkan. Karena kamu tidak pernah tahu dari begitu banyak doamu mana yang akan dikabulkan, mana yang ditunda, dan mana yang diganti dengan yang lebih baik.
Aku sering dinasihati untuk berprasangka baik, kepada orang dan juga Allah. Dan lewat ini aku bagikan kembali untuk kalian. Sebab, Dia sesuai dengan apa yang kamu sangkakan kepada-Nya.
“Doa itu melunakkan yang keras, menentramkan yang bersedih, mendekatkan yang jauh, menguatkan yang lemah, menyatukan yang terpisah dan menjadikan tiada menjadi ada”
-Arnova Reswari-

Friday, November 23, 2018

Bumi, Langit, Matahari dan Kita

4:59 PM 0 Comments


Bumi yang sejak dulu kita pijak adalah bumi yang sama. Yang sudah ada sebelum kita, yang terus berputar hingga saat ini. Bumi yang saat ini kita tempati dengan penuh kebahagian dan kesedihan adalah bumi yang satu, yang isinya adalah udara yang sama. Meskipun kita berada di sisi bumi yang berbeda.

Langit yang meneduhi kita adalah langit yang sama. Langit yang sudah ada bersamaan dengan bumi. Yang memberitahu perbedaan pagi dan malam hingga kita tahu kapan pertemuan yang baik suatu hari nanti. Langit itu adalah langit yang sama, yang kita pandang setiap hari selepas dhuha.

Matahari yang menyinari kita adalah matahari yang sama. Jika kita tidak pernah saling mengenal, namun sejak kecil kita sudah mengenal sesuatu yang sama, namanya matahari. Matahari yang membuat bumi hangat dan tidak pernah berubah.

Dan kita. Kita adalah dua orang yang tidak saling mengenal, terpikir untuk bertemu saja tidak pernah. Tapi takdir Tuhan dengan begitu hebatnya bisa mempertemukan kita dalam keadaan yang asing. Tuhan yang sama. Tuhan yang menciptakan bumi dengan segala isinya yaitu langit, matahari, dan kita.

Dan kita paham, kita adalah dua orang asing berbeda yang jalan hidupnya ternyata bertemu. Beribu-ribu kilometer, tumbuh dan besar di sisi bumi yang berbeda tapi akhirnya dipertemukan di titik bumi yang sama.


-Di Yogyakarta sore hari-

Monday, September 17, 2018

TIGA TAHUN

10:00 PM 0 Comments
(Maaf, thumbnail-nya pecah.
Tapi kalau foto di klik tidak pecah)
September…

Aku suka September dan kata orang-orang September itu ceria. Banyak hal dalam hidupku terjadi di bulan September. Aku punya seseorang perempuan hebat yang membuat kamu bisa mengenalku sampai saat ini. Iya, dia adalah orang yang aku sebut ibu hingga saat ini. Tepat 2 September, Allah menghandirkannya untuk menjadi ibuku.

Aku tidak benci September dan kata orang-orang Desember itu kelabu bukan September. Setelah Allah menghandirkannya di bulan September tapi Allah juga mengambilnya kembali di bulan September. Tepat tiga tahun yang lalu, dihari Kamis, 17 September 2015, pukul 22.00 WITA.

Akhirnya tiga tahun. Sebuah kepergiaan yang tidak akan kembali lagi. Tiga tahun yang panjang, yang membuat banyak perubahan. Tiga tahun yang selalu merindu. Tiga tahun yang terus belajar merelakan, menerima. Tiga tahun yang penuh dengan banyak cerita, yang seharusnya ku ceritakan padamu lagi, ibu.

Kira-kira apa yang terjadi ketika seseorang telah pergi menemui yang Kuasa? Apakah mereka dapat merasakan rindu, marah juga?

Kata Allah, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya“ (Q.S Ali ‘Imran: 145). Berarti Allah mengizinkan ibu untuk menemaniku hanya sampai saat aku berumur 19 tahun saja?

Lalu Allah berkata lagi. “Aku tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya” (Q.S Al-Baqorah: 286). Berarti Allah percaya kalau aku sanggup kehilangan ibu saat itu hingga saat ini?

Setelah itu Allah berkata lagi, “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangalah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (Q.S At-Taubah: 40). Berarti Allah selalu ada, selalu bersama aku saat ini dan seterusnya?

Ibu, Allah itu baik ya. Dia mengambilmu dan memberikanku kesedihan, tapi tidak lupa juga Dia menggantinya dengan orang-orang baru yang sangat menyanyangiku saat ini dan memberikan banyak kebahagian didalamnya. Jadi, ibu tidak perlu khawatir lagi soal bagaimana keadaanku saat ini.

Ibu, tapi maaf kalau engkau masih sesekali melihatku ku menangis dalam kondisi tertentu. Bukan, bukan karena aku belum merelakanmu, tapi terkadang ada hal-hal tertentu yang tidak bisa tejelaskan lagi. Kadang terpikir jika ibu masih ada, mungkin kita akan selfie bersama, membuat boomerang ala anak-anak jaman sekarang. Juga seandainya ibu masih ada, mungkin banyak hal-hal berat yang bisa dilalui dengan lebih ringan. Dan mungkin akan lebih banyak lagi hal berbeda yang terjadi.

Oh iya bu, Allah juga bilang seperti ini, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S Al-Baqarah: 186).

Kalau begitu, akan aku katakan kepada Allah, kalau ibu adalah ibu yang sangat baik, ibu yang hebat. Ibu yang selalu berusaha meredam egonya untukku dan bapak. Ibu yang terus berjuang hingga saat diujung hidupnya yang terpikirkan hanyalah bagaimana aku selanjutnya. Lalu, akan aku mintakan lagi pada Allah untuk memberikan ibu tempat yang sangat-sangat baik di sana. Walaupun aku tidak tahu bagimana akhirnya di sana, tapi tidak mengapa. Aku akan terus memintakannya untuk ibu.

Penyesalan terbesarku adalah tidak ada saat ibu koma dan akhirnya pergi, bahkan untuk mengetahui kabar itu saja aku tidak tahu. Dan akhirnya yang kudapatkan hanya tinggal raga dingin tanpa nyawa. Karena itu akan ku katakan juga pada Allah, jika aku masih berkesempatan bertemu denganmu, aku ingin sekali dipeluk sampai aku tertidur dipangkuanmu. Lantunkan lagu untukku yang dulu engkau latunkan ketika kecil aku susah untuk tidur. Marahlah padaku ketika aku susah untuk minum obat, minum susu ataupun makan sayur. Tersenyumlah padaku ketika engkau menerima kiriman hasil akademikku yang baik. Hujani aku dengan semua cinta dan kasih sayangmu serta puasakan aku dengan perhatian-perhatian kecil mu. Ahhh, sungguh merindu.

Seseorang pernah berkata padaku, kalau aku tidak boleh bersedih terlalu lama saat ibu tidak lagi mendampingiku, bagiamanapun aku tetap harus menajutkan hidupku. Duniaku tidak boleh berhenti berputar hanya karena ibu tidak lagi bersamaku. Semua manusia di dunia akan melewati setiap proses ini, dan ibuku lah yang mungkin harus melewatinya mendahuli aku. Aku tidak boleh takut ditinggalkan oleh ibu, ibulah yang akan selalu mendoakanku dari atas sana, dari dunia yang berbeda. Raga ibu yang memang tidak ada lagi dengaku seperti dulu, tapi cinta ibu yang akan selalu ada dan hidup di dalam hatiku.

Dan terimakasih kamu, kalian yang sudah menambah kebahagianku sampai saat ini. Walaupun akhirnya ada yang pergi meningalkan luka, tapi tidak mengapa. Kata ibu, kamu, kalian itu baik. Itu sudah cukup.


Masih di Yogyakarta, 17 September 2018


Sunday, September 2, 2018