Follow Us @soratemplates

Tuesday, June 16, 2020

#Sebuah Kata: Ibu

9:52 PM 0 Comments



Rasanya sudah sangat lama sekali. Sejak 2015 kepergiaan Ibu, tidak tahu kenapa baru sekarang terasa sangat asing untuk menyebutkan kata Ibu. Semalam, dalam perjalanan pulang mengendarai motor, tiba-tiba saja pikiran itu muncul, tiba-tiba saja dijalan berucap kata Ibu. Ku ucapkan hingga berkali-kali, bukan lagi dalam hati tapi dengan mengeluarkan suara. Semakin ku berucap dan mendegarkankan suara ku sendiri menyebutkan kata Ibu, hal itu semakin terasa asing dan aneh. Tidak tahu kenapa.


Sadar kalau sekarang sudah tidak ada yang menelpon setiap hari menanyakan hal-hal kecil, bercerita, dan lalu aku menjawab: “Halo, Asaalamualaikum ibu” atau “Ibu lagi dimana?” atau “Ibu tahu gak tadi aku.......”


Sadar kalau sekarang kata-kata Ibu yang dulu setiap hari diucapkan, hingga beratus-ratus kali dalam sehari, sekarang mendengar suara sendiri menyebutkan kata Ibu saja terasa asing dan aneh. Kebiasaan yang hilang seiring berjalannya waktu.


Ternyata benar ya, rasa rindu itu bisa muncul tiba-tiba di mana saja dan di situasi apa saja.Tidak peduli di keramaian sekalipun, kalau mengingat ibu, ya pasti rindu. Rasanya sejak semalam hingga hari ini rasa rindu itu muncul tiba-tiba. Membesar lalu pecah.


Jika nanti suata saat, entah cepat atau lambat, akan ada lagi yang ku panggil Ibu. Iya, Ibumu lah yang akan ku panggil dengan sebutan Ibu. Karena itu aku berdoa untuk kesehatan Ibumu, hingga nanti aku bertemu dengannya dan memanggilnya Ibu, yang mungkin setiap hari bisa ku panggil Ibu. Semoga Ibumu selalu dalam keadaan sehat.


Untuk aku, kamu yang merindukan Ibu yang sudah tiada, tidak perlu malu untuk bersedih, tapi jangan terpuruk dalam kesedihan. Rindu tidak dilarang, tapi ingatlah selalu bahwa Ibu tidak pernah menginginkan anaknya larut dalam kesedihan dan menangis terus-menurus.


Semua manusia di dunia akan melewati setiap proses ini. Raga Ibu yang memang tidak ada lagi denganku seperti dulu, tapi cintanya akan selalu ada dan hidup di dalam hatiku ❤❤❤


Yogyakarta, 16 Juni 2020

Saturday, January 18, 2020

Bumi Pelangi

5:38 PM 1 Comments

Beberapa hari terakhir, kota ini kembali terasa sangat panas. Hujannya hilang, mataharinya ada. Sama seperti temanku Bumi, Pelanginya hilang. Iya, dia masih temanku yang bernama Bumi, yang jatuh hati dengan temannya bernama Pelangi, bukan yang lain.

Hari ini kembali di kedai kopi favorit ku bersama Bumi tanpa Pelanginya. Bumi yang katanya mencintai Pelanginya tanpa perlu Pelangi tahu, namun sekarang terlihat khawatir.

“Bagaimana Pelangi?”

“Baik”

“Lalu?”

“Semua berjalan sebagaimana mestinya”

“Seperti apa?”

“Pelangi sedang hilang”

“Dan kamu khawatir?”

“Tidak”

“Tidak usah mengelak Bumi”

“Pelangi akan muncul lagi padaku nanti”

“Hahaha sudah seperti ini pun kamu masih sangat begitu yakin. Sudah ku katakan dulu, Pelangi itu sangat indah, semua yang melihatnya akan menyukainya, Bumi”

“Dan sudah ku katakan dulu juga padamu, bahwa bukan cinta kalau dia tidak membuatmu yakin.........”

“Iya dan kamu yakin pada Pelangimu itu. Dan ada masanya dimana Tuhan yang akan memberitahu Pelangi dan kalian akan bergerak mendekat sesuai kemauan-Nya. Begitu kan?"

“Iya”

Bagitulah obrolan sore hari menunggu senja bersama Bumi. Aku sampai hafal dengan jawaban-jawaban dia. Mendengar jawabannya itu aku lega, karena ternyata dia masih temanku Bumi yang ku kenal, yang mencintai Pelanginya dengan caranya sediri. Aku akan heran jika jawabannya berbeda, itu bukan Bumi.

Pelangi, ini temanku Bumi. Entah apa yang membuatnya begitu yakin padamu. Disaat orang-orang berusaha mengungkapkan perasaanya, Bumi tidak mau. Dan kamu tidak akan tahu soal perasaan Bumi sampai nanti Tuhan yang memberi tahu dengan cara-cara indah-Nya. Begitu kata Bumi.

18 Januari 2020
Sore hari tanpa Pelangi Bumi