Follow Us @soratemplates

Saturday, December 28, 2019

[CERPEN]: Ibu, Ayah, dan Anak Perempuannya Ketika Bersama

7:54 PM 1 Comments


“Ibu, kenapa kita ke Jogja?” tanya seorang anak perempuan disela-sela kemacetan

“Jogja itu istimewa kak”

“Istimewa? Karena dia memiliki sultan?”

“hahaha bukan hanya itu kak. Ada banyak hal yang membuat Jogja istimewa. Dan tiap orang yang kembali berkunjung ke Jogja punya keistimewaan yang berbeda-beda”

“Lalu apa istimewanya Jogja buat ibu?”

“Disini ibu banyak bertemu orang-orang baik, sangat baik. Ibu belajar kehilangan, kesedihan, kebahagiaan, kebersamaan, banyak hal kak. Dan ibu bertemu........”

“Ayahhhhhhhh” teriak anak perempuannya keras sekali

“hahahahahaha” semua tertawa saling melirik

“Kalau begitu, kakak nanti mau tinggal di Jogja biar bisa bertemu orang-orang baik dan bertemu orang seperti ayah” kata anak perempuannya semangat sekali

“Kakak tidak perlu tinggal di Jogja untuk bisa bertemu orang baik. Dimana pun kakak memilih tinggal nanti, kakak tetap akan bertemu orang baik jika kakak berbuat baik juga pada orang” jelas ayahnya sambil menyetir

“Hhhmmm begitu. Dan buat kakak sekarang Jogja sudah jadi istimewa, karena ibu dan ayah ada di sini” saut anak perempuannya sambil memeluk dari belakang

“Ibuuuuu, ayah dulu orangnya bagaimana? Pasti ayah pernah nyakitin ibu. Hayo ayah ngakuuuu” goda anak perempuannya kepada ayah ibunya

.......

Dan mobil terus melaju meninggalkan kemacetan lampu merah Gejayan bersama mobil-mobil lainnya. Menyusuri Jogja yang kata orang-orang istimewa.

Sunday, December 22, 2019

:Ibumu #2

12:32 PM 1 Comments



“Ibu, anak perempuan seperti apa yang ibu inginkan?”

Tanya anak laki-lakinya yang berada tepat didapanku lewat telepon. Mendegar pertanyaan itu, aku terdiam. Ingin mendegarkan tapi tak bisa, hanya raut senyum sembari tertawa kecil yang kulihat diwajahnya.

Ibumu memang yang paling terbaik dan mungkin aku tidak bisa menyamai beliau. Dalam segala hal, yang memberikan rasa nyaman, rasa sayang lalu bisa membuatmu jatuh cinta setiap hari kepada beliau. Rasanya aku tidak bisa menyamainya.

Aku ingin mengenalnya, lalu berbicara dengannya berdua saja. Aku ingin bercerita banyak hal, belajar tentang anak laki-lakinya itu. Aku ingin mengetahui sudut pandangnya tentang anak laki-lakinya itu.

Setelah itu, mungkin aku bisa sedikit saja menyamai ibumu. Sedikit saja, tidak banyak karena tetap ibumu adalah hal terbaik yang ada padamu sekalipun nanti kamu memilih perempuan lain untuk mendampingimu.

Jika nanti aku diujinya untukmu, aku belum tahu akan seperti apa. Apakah aku masuk dalam semua yang disampaikan ibumu lewat telepon tadi atau tidak. Rasanya aku akan selalu tampak kurang.

Jika nanti beliau mengujiku untukmu, aku tidak tahu bagaimana mungkin bisa berhadapan dengan orang yang tidak pernah membuatmu kecewa, orang yang selalu kamu ceritakan dengan bangga kepada siapapun yang menanyakannya.

Sebab itu, membuat ibumu percaya dan yakin adalah tugasku karena pasti ibumu tidak akan membiarkanmu bersama perempuan biasa, perempuan itu harus luar biasa setidaknya menurut beliau.

Masih dengan pesan yang sama untuk ibumu, kalau aku akan belajar. Membuatmu tidak melupakannya, atapun merasa kehilanganmu karena keberadaanku. Karena surgamu tetap ada pada ibumu dan kamu akan menjadi sebab besarku masuk surga.

Selamat Hari Ibu
22 Desember 2019
Dari Yogyakarta untuk ibumu

Thursday, December 19, 2019

Dulu & Sekarang

5:47 PM 0 Comments


Sekarang tidak akan ada yang melepaskan dan dilepaskan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Pernah berjanji tapi teringkari, pernah mencintai tapi terabaikan, pernah membenci tapi tetap mengikuti, sampai akhirnya kita berdamai dengan keadaan untuk saling jatuh hati. Menerima sebuah perkenalan, saling menatap diam-diam.

Dulu keegoisan dan kegengsian yang tinggi membuat semuanya kacau. Kita seperti berada dalam kepura-puraan yang sangat besar, berlagak tidak peduli dalam keramaian tapi mata tetap saja mencari. Kita pernah mulai atau mungkin hampir berdamai dengan keegoisan dan kegengsian itu, tapi semua terasa begitu canggung. Sampai akhirnya kita kembali dengan situasi yang sama yaitu diam. Terasa begitu membosankan terus berada dalam zona aman, kita hanya berputar-putar saja. Kita tidak berusaha saling meredam ego dan gengsi, semua dibiarkan tumbuh liar dalam diri kita.

Dulu ketika mulut memutuskan untuk diam, ketika itu anggota tubuh yang lain bertindak. Kita seperti orang yang tidak bisa berbicara, kita dipaksa untuk mampu mengartikan seribu bahasa tubuh dengan semua asumsi masing-masing. Bahkan menebak-nebak menjadi kebiasaan kita. Hanya melihat dan mendengar cerita orang lain lalu seketika kita jadi penebak yang handal. Sudah terlalu banyak asumsi yang tercipta dan sepertinya kita belum berniat untuk meluruskan asumsi-asumsi itu.

Sekarang kita berjarak. Tidak ada yang salah, jarak begitu bijak memisahkan kita saat ini. Jarak memberikan pilihan, merasakan rindu kah atau lebih buruknya semua akan hilang. Jarak selalu dibutuhkan, jika tidak ada jarak maka akan ada jenuh. Jarak dan jenuh sama-sama memisahkan. Bedanya jika dibalik jarak ada kerinduan, dibalik jenuh tidak ada. Jarak memberikan kita waktu untuk sama-sama berpikir, sebelum benar-benar jenuh itu datang dengan buas dan akhirnya memisahkan dengan cara yang kasar.

Sekarang sudah lama sejak kita berteman dan bermain-main dengan jarak. Sampai akhirnya pertemuan memutuskan jarak. Dibalik mata yang sendu dan senyum yang ikhlas seolah bermakna “hay, apa kabar?”. Semua masih sama, ada kerinduan tapi tidak dalam.

Sekarang tinggal bagaimana menyikapi pertemuan-pertemuan paksa yang direncanakan-Nya.


19 Desember 2019
Hujan sore hari di Yogyakarta

Saturday, October 26, 2019

Aku Sedang Mencintainya

7:36 AM 0 Comments

Hari ini hujan, deras sekali, untungnya aku tidak sendirian dan aku tidak sedang jatuh cinta. Katanya jangan jatuh cinta saat hujan. Karena ketika besoknya kamu patah hati, maka setiap hujan turun kamu akan mengingat soal kejadian menyakitkan itu. Ahhh, itu karena kamu belum bisa menerimanya, kamu masih sekedar melupakannya.

Memang aroma kopi hangat adalah hal terbaik saat hujan dan sekarang aku sedang mendapatkan keduanya, aroma kopi hangat bersama hujan di kedai kopi favoritku. Disisi lain, temanku Bumi terlihat begitu gelisah. Iya, dia gelisah menunggu hujan berhenti. Karena Pelangi-nya tidak akan datang setelah nanti hujan reda.

Namanya Bumi. Dia temanku, seorang laki-laki yang saat ini sedang jatuh cinta pada temannya, namanya Pelangi, bukan yang lain.

Gelisah sekali temanku ini menunggu Pelanginya. Yang ku dengar sedari tadi selain suara hujan adalah nama Pelangi yang disebutkan oleh Bumi terus menerus. Entah sudah seberapa banyak. Tapi saat nanti Pelanginya muncul, dia terlihat malu-malu. Aku sudah hafal dengan sikap Bumi yang seperti itu.

“Bumi, kenapa kamu tidak mengungkapkan saja perasaanmu untuk Pelangi? Kamu takut?”

“Mencintai tidak hanya tentang keberanian, atau kesempatan. Namun, tentang keimanan dan ketaqwaan”

“Lalu?”

“Tidak semua perasaan itu harus dituruti. Tidak harus dikatakan. Aku sudah mendekatinya, dengan doa”

“Pelangi begitu indah, tidak ada yang menepis keindahan Pelangi. Kalau nanti Pelangi muncul tapi tidak padamu. Kamu mau seperti itu?”

“Tidak”

“Lalu?”

“Aku sedang mencintainya dan dia tidak perlu tahu itu. Aku yakin, ada masanya dimana Tuhan yang akan memberitahunya dan kami akan bergerak mendekat sesuai kemauan-Nya”

“Sebegitu yakin kamu Bumi. Apa kamu bisa yakin kalau Pelangi juga mencintaimu?”

“Aku yakin, sangat yakin”

“Percaya diri sekali, seyakin itu kamu. Apa dasarnya?”

Bukan cinta kalau dia tidak membuatmu yakin

Itulah temanku Bumi, dengan segala caranya untuk mendekati Pelangi. Dengan cara yang mungkin susah ku pahami bahkan manusia lain pun. Disaat orang-orang berusaha mengungkapkan perasaanya, Bumi tidak mau. Dan Pelangi tidak tahu soal itu sampai nanti Tuhan yang memberi tahu. Itu yang dikatakan Bumi.

Kopi hangat ku sudah hampir habis dan hujan mulai mereda, artinya Pelangi sebentar lagi datang dan Bumi nanti akan memalu. Dan aku masih sama, tidak mengerti dengan pemikiran Bumi. Yahhh, tapi setidaknya aku tahu kalau Bumi mencintai Pelangi.

Sunday, September 29, 2019

Bisa Bertemu?

10:00 PM 0 Comments


Hay kamu,
Ada banyak cerita yang belum ku ceritakan lagi padamu
Ada banyak kejadian yang belum kamu ketahui lagi
Ada banyak masalah yang belum terselesaikan
Kalau kamu ada waktu, bisa bertemu?

Hay kamu,
Ada banyak kata maaf yang belum ku ucapkan padamu
Ada banyak ucapan terimakasih yang belum ku sampaikan padamu
Ada banyak kesalahpahaman yang belum ku klarifikasi padamu
Kalau kamu ada waktu, bisa bertemu?

Terakhir yang aku tahu,
Kita tidak sedang membenci, hanya saja sudah ada prioritas lain dari masing-masing kita
Kita tidak sedang bertengkar, hanya saja ada hal-hal yang salah diartikan dari kita
Kita tidak sedang menjauh, hanya saja ada sedikit atau mungkin terlalu banyak kesibukan yang dijalani

Karena itu,
Mau ku adalah bertemu

Namun,
Jika kamu belum ada waktu, tidak mengapa. Mungkin lain kali
Jika kamu tidak ada waktu, tidak mengapa. Setidaknya kita sudah pernah saling kenal dan bertemu

JOG, 29-09-2019

Monday, September 2, 2019

:September Punya Cerita

7:43 AM 0 Comments

September punya cerita.

Sudah 4 tahun lamanya di 2 September tidak ada lagi kue ulang tahun, kado atau apapun itu. Yang tersisa hanya deretan doa penuh harap dan cinta untuk ibu.

Dan sudah 4 tahun lamanya juga sejak 17 September 2015 tidak ada lagi ibu yang menemaniku. Yang tersisa hanya deretan kenangan penuh makna untuk ku.

Ibu, 4 tahun sejak ibu pergi dan tidak kembali dan aku terus merindukan kehadiranmu. Tidak akan pernah berhenti. Kepergianmu ternyata meninggalkan kekosongan yang tidak terjelaskan.

Ibu, aku sudah dewasa saat ini. Tapi ternyata dalam hal merindukanku aku masih saja kalah dengan kesedihanku sendiri. Maaf kalau aku masih saja menangis dalam kondisi tertentu.

Ibu, aku sudah 23 tahun sejak ibu tinggalkan aku diumur 19 tahun lalu tapi badanku masih saja kecil belum bertambah. Bahkan baju-baju yang ibu beri buatku dulu masih bisa kupakai saat ini.

Ibu, aku masih saja menetap di Jogja. Disini aku mengenal banyak sekali orang baik. Aku senang ada disini, berada diantara mereka. Ibu pasti senang karena ada banyak cinta baru untukku disini. Dan ibu tidak perlu risaukan mereka yang tidak baik padaku bahkan tidak menyukaiku.

Ibu, sekarang bapak sudah dalam kondisi sangat baik. Tidak lagi seperti di hari dan tahun awal kepergian ibu dulu, saat ini bapak benar-benar sudah membaik seperti yang ku harapkan bahkan ibu harapkan juga kan. Dia bapak yang kuat buatku saat ini.

Ibu, maaf. Mungkin aku tidak sekuat apa yang ibu tahu dan orang-orang liat. Begitu mudah aku tertawa tapi begitu mudah juga aku menangis. Tangisku masih saja pecah jika mengingatmu. Mendapatkan masalah dan membayangkan jika ibu masih ada mungkin masalahku bisa terasa lebih ringan.

Ibu, aku masih saja berandai-andai hingga hari ini. Seandainya hari ini ibu masih ada, pasti akan ada yang ku telpon untuk mengucapkan ulang tahun, lalu ibu akan menjawabnya dengan ceria dan senang sembari bilang “kadonya kamu pulang ke Palu aja”.

Ibu, mungkin aku salah satu yang tidak beruntung karena sudah tidak memiliki ibu saat ini dibanding dengan mereka yang hingga saat ini masih bersama. Tapi aku jadi salah satu yang beruntung dibanding mereka yang mungkin sudah kehilangan ibunya sejak kecil dan mungkin belum melihat ibunya. Dan aku bersyukur tentang hal itu.

Dan aku semakin bersyukur walaupun Tuhan mengambil ibu dariku tapi Dia menghadiakan sekian banyak orang baru yang menyanyangi ku hingga saat ini.

Selamat ulang tahun Ibu
Masih dari Yogyakarta,
2 September 2019

Friday, July 12, 2019

Berhenti [bukan] di Kamu

7:29 PM 0 Comments

Jika nanti itu kamu, maka aku tidak perlu bersusah payah menghapus semua cerita dan tulisanku yang mungkin ada kamu didalamnya. Aku hanya perlu mengulang dan memberitahumu soal apa-apa yang tersirat didalamnya sembari menonton TV di kamar.

Jika nanti itu kamu, maka akan ku ceritakan semua apa yang pernah ku rasakan tentang kebahagianku, keraguanku, kekhawatiranku, kekecewaanku tentangmu yang sulit ku ungkapkan dulu sembari terjebak macet bersama dalam mobil sore hari.

Jika nanti itu kamu, maka akan ku ingat kembali cerita-cerita kita dulu. Saling bercerita satu sama lain dengan serunya mengingat tentang hal-hal konyol yang pernah terjadi dulu sembari tertawa bersama di ruang tengah.

Namun, jika nanti itu bukan kamu. Tidak mengapa. Kata ibu, kamu baik. Itu sudah cukup. Dan aku bersyukur tentang itu. Bisa mengenal, akrab, lalu jatuh hati padamu. Karena denganmu aku pernah mencintai orang baik. Karena denganmu aku jadi tahu kalau aku masih bisa memilih orang baik mana untuk dicintai.

12 Juli 2019
di Yogyakarta yang sedang macet

Friday, June 28, 2019

Karena Kamu Akan Merindukanku

6:49 PM 0 Comments

Akan ada satu waktu ketika kamu dalam perjalanan menuju tempat kerja, kamu akan merindukanku. Meskipun beberapa detik yang lalu mungkin kamu baru saja menghubungiku.

Akan ada satu waktu ketika kamu sedang berada diperpustakaan, kamu akan merindukanku. Aku akan ada dalam salah satu halaman buku yang kamu baca tanpa pernah kamu sangka.

Akan ada satu waktu ketika kamu sedang dalam pesawat, kamu akan merindukanku. Meskipun baru saja aku mengantarkanmu, bertukar pesan dan ucapan hati-hati.

Kamu akan merindukanku,
Ketika kamu sedang makan atau bermain bersama teman-temanmu, atau ketika kamu sedang menonton TV, atau ketika kamu berada dalam keramaian, atau ketika kamu masih terjaga tengah malam, atau apapun itu. Iyaa, kamu akan merindukanku.

Kamu akan merindukanku,
Meskipun chat terakhirmu adalah aku, meskipun panggilan terakhirmu adalah aku, meskipun kita sedang makan bersama, meskipun beberapa menit yang lalu kita baru berpisah. Iya, kamu akan merindukanku.

Jika nanti garis hidup kita tidak bertemu,
Jika nanti kita punya kehidupan baru berbeda,
Jika nanti kita sama-sama adalah masa lalu,
Satu hal,
Kamu akan merindukanku,
Entah kenapa tapi kamu akan merindukanku.

Dari Yogyakarta,
28 Juni 2019

Wednesday, June 26, 2019

#Bapak

7:57 PM 0 Comments
Bapak tidak banyak bicara. Ketika cinta bukan lagi kata sifat dan telah berubah menjadi kata kerja baginya. Tangannya kasar ketika akan kusalami, semua yang dilakukannya adalah untukku. Ketika masih kecil, bapak selalu membatasi ku dengan semua aturan-aturan keras yang dibuatnya. Tapi percayalah itu salah satu wujud cinta yang bisa dilakukannya. Ketika beranjak dewasa, bapak melonggarkan semua peraturan-peraturannya karena dia percaya anak gadisnya bukan lagi gadis kecil walupun baginya aku akan tetap gadis kecilnya. Itu bukan karena dia tidak peduli lagi tapi dia percaya padaku.

Ketika pertama kali mereka harus melepaskanku untuk sekolah di luar kota, badan bapak begitu kaku untuk memelukku. Dengan sebuah tatapan, aku mengerti kalau bapak sangat khawatir dengan kepergianku. Tatapannya mengandung sejuta pesan untukku, aku tahu itu. Bapak hanya sulit mengungkapkan dalam perkataan seperti yang ibu lakukan.

Cinta bapak begitu dingin tak berbahasa. Dulu sebelum kepergiaan ibu, ponsel ku selalu berbunyi setiap harinya tapi lihat, itu bukan bapak tapi ibu yang menelpon. Bapak jarang untuk menelponku terlebih dahulu. Aku sempat berpikir bagaimana ibu bisa jatuh cinta kepadanya, aku belum mengerti. Bapak memang begitu dan aku mencintai bapakku yang seperti itu.

Suatu ketika kepergian ibu, aku baru pertama kali melihatnya menangis di dapan mataku, memelukku lebih lama dan hangat sekali, ada cinta yang terbahasakan dalam kesedihan. Tubuhku yang saat itu terasa lemas sekali, tapi tidak karena ada bapak yang menopangku. Terbesit dalam pikiranku, tidak akan lagi ada kata-kata cinta yang akan kudengar dari ibu karena bapak begitu pasif dengan hal-hal seperti itu.

Masih teringat saat aku kembali melihatnya menangis untuk kedua kalinya, ketika dihari ulang tahunku ke-20 tahun, yaitu setelah 4 bulan kepergiaan ibu. Setiap tetes airnya mengandung sejuta doa, harapannya terhadapku. Bapak begitu tidak ingin terlihat lemah dihadapanku, dia berusaha menahan tangisannya. Tapi ketika semuanya tidak bisa terkendali, disitu aku melihat sisi lain dari bapakku.

Sejak kepergian ibu, tenyata dugaanku salah. Bapak yang dulunya pasif dengan kata-kata cintanya tapi sekarang tidak. Seperti ada sosok ibu yang kutemui dalam diri bapak. Di ujung telepon, ibu seperti menuntun dan berbisik kepada bapak untuk mengatakan kata-kata cinta itu kepadaku. Indah bukan? Aku bisa mendengarkan kata-kata cinta dari bapak dengan merasakan sosok ibu didalamnya.

Suatu hari nanti, ketika seorang lelaki datang untuk mengambilku, bapak pasti akan sangat hati-hati untuk memberi izin. Gadis kecilnya yang dibesarkannya dengan hati-hati ini harus mendapatkan kebahagian yang sama bahkan lebih, pikirnya. Dan sampai akhirnya bapak melihatku duduk bersama pilihanku yang direstuinya, akan ada senyum bahagia yang kulihat dari wajahnya yang telah menua. Mungkin setalah itu bapak hanya bisa menunggu kedatanganku bersama cucu-cucu nya yang datang untuk menjengguknya dengan keadaan rambut yang memutih dan tubuhnya yang tidak lagi kuat tapi tetap dapat menjagaku.

Sunday, April 14, 2019

Terimakasih~

9:39 PM 0 Comments


“Kamu tahu apa satu kesalahan besar laki-laki?”
“Tidak. Apa itu?”
“Adalah mengatakan perasaannya tapi tidak siap untuk mengikatnya. Begitu kata ibuku”
“Lalu kamu?”
“Aku merasa belum cukup kuasa untuk mengatakannya”
“Lalu bagaimana?”
“Aku akan memudahkan urusannya, membantu menyelesaikan masalahnya diam-diam. Membuat dia bahagia diam-diam. Dan terakhir mendoakan dia dengan cara-cara yang ahsan
***
Pernah satu waktu, pagi hari. Matahari telihat malu untuk menampakan dirinya dan memperlihatkan keindahannya. Dia muncul namun bersembunyi dibalik tebalnya awan. Tapi itu tidak mengurangi keindahannya dan rasa terimakasih ku, padanya matahari dan padamu yang menemani.

Terimakasih....
Terimakasih telah bersedia bersabar.
Bersabar atas perasaan yang sedang tumbuh begitu kuatnya.
Bersabar atas menunggu waktuku yang lebih luang.

Terimakasih telah bersedia menjaga diri.
Menjaga diri dari segala macam perasaan yang mencoba datang padamu.
Menjaga diri dari perasaanku yang sedemikian rupa.

Terimakasih telah bersedia percaya.
Percaya pada jarak yang sama sekali tidak mau mengalah dan akhirnya membuat rindu itu menjadi sakral.
Percaya pada doa yang selalu bisa menentramkan yang bersedih, mendekatkan yang jauh, menguatkan yang lemah, dan menyatukan yang terpisah.

Terimakasih...
Karena sekarang kita paham bahwa yang berharga tidak dengan mudah dapat dimiliki.
Karena sekarang kita percaya bahwa untuk menjadi indah, kita butuh waktu.

Pagi ini dan seterusnya, aku akan berdoa bagaimanapun caranya. Semoga Allah melembutkan hati orang-orang terdekat kita. Semoga Allah memberikan keluasan hati pada diri kita untuk menerima segala bentuk kekurangan dan kelebihan satu sama lain.

Saat ini, kita sedang diuji dengan kehadiran masing-masing. Kita sama-sama menjadi ujian satu sama lain. Dan aku tidak mau membiarkanmu terlalu lama berasumsi, menerka-nerka sesuatu yang selama ini tidak terucapkan.
***
“Boleh rindu asal tidak lupa berdoa”  katamu pagi itu



Friday, March 22, 2019

:Ibumu

8:07 AM 0 Comments


Ibumu adalah seseorang yang paling terbaik dan mungkin aku tidak bisa menyamai beliau. Dalam ukuran apapun tidak akan bisa mencapai rasa cinta seperti beliau. Rasa kasih sayang yang selalu membuatmu merasa nyaman setiap waktunya.
Ibumu, menyaksikan tumbuhmu sejak berada dalam rahimnya. Mual pertama kali hingga susah tidur dimalam hari. Menyaksikanmu tumbuh berkembang menjadi laki-laki hebat dan tempatmu belajar segala hal tentang dunia ini.
Jelas sekali aku tidak mampu menjadi paling terbaik seperti beliau untukmu. Bagaimana mungkin aku bisa menyamai rasa cinta yang berpuluh-puluh tahun ditumbuhkan untukmu. Tidak bisa sedikitpun.
Memang akan selalu seperti itu. Dan aku belum tahu bagaimana nanti jika harus berhadapan dengan orang yang menyandang predikat terbaik dalam hidupmu itu. Kalau beliau mengujiku untukmu, rasa-rasanya aku akan selalu tampak kurang.
Katakan pada ibumu, aku akan belajar. Membuat beliau percaya bahwa aku akan membantumu untuk tetap berbakti padanya. Karena kamu akan menjadi sebab besarku masuk surga dan surgamu tetap ada pada ridho ibumu.

Dari aku di Yogyakarta, sedang musim hujan
22 Maret 2019

Friday, February 1, 2019

SENJA

3:52 AM 0 Comments


Jika hujan selalu datang lagi walaupun tahu rasanya jatuh berkali-kali. Lalu begitupun senja. Senja akan tetap kembali walaupun telah pergi.
Ada hal yang membuatmu selalu mau menunggu senja. Walaupun kadang hari ini senja bisa saja muncul dengan semua keindahannya, lalu esok hari tidak menampakkan dirinya. Dan kamu kesal, sedih, marah tapi esok harinya kamu tetap menantinya. Itu karena senja sudah memiliki tempat lain di dalam hatimu.
Ada hal yang membuatmu selalu merindukan senja. Dimanapun kamu berada, kamu tetap bisa mendapatkan senja. Tapi akan beda rasanya dengan tempat dimana awal kamu bertemu dan jatuh hati pada senja. Itulah yang  lalu membuatmu rindu.
Ada hal yang membuatmu selalu bisa bertahan dengan senja. Walaupun senja tidak pernah menjanjikan keindahan padamu setiap hari, tapi ada sesuatu yang hanya kamu yang tahu tentang senja. Dan kamu menyukai sesuatu itu, tidak yang lain.

Dan ada hal yang nantinya membuatmu bisa melepas senja. Yaitu ketika senja pergi lalu kembali tapi bukan untukmu lagi.

Palu
Sedang liburan dan hampir selesai
31 Januari 2019

Thursday, January 17, 2019

no title~

9:23 PM 1 Comments


Kata Allah, Dia itu pencemburu pada hambanya. Aku takut, ketika meletakkan cinta tidak pada tempatnya, lalu Allah mencemburui itu. Dan seketika Allah mengambil semuanya dari ku.

Kalau begitu, akan ku katakan pada Allah, kalau Dia tidak perlu khawatir. Sebaik-baiknya cinta adalah rasa cinta kepada Nya. Dan kamu juga tidak perlu khawatir, dekati saja Dia sang pemilik hati, sisanya biar Dia yang menjalankan dan menggerakan kita. Kamu percaya itu kan? Aku percaya.

Oh iya, kata Allah, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Kata Ibu, kamu baik. Tapi sepertinya aku belum baik. Karena itu bersabarlah sedikit lagi.

Kuncinya jangan buat Allah cemburu ya. Bahaya, kamu bisa kehilangan banyak hal. Kalau kamu mencinta, jangan berlebihan. Kalau kamu cemburu, juga jangan berlebihan. Allah tidak suka yang berlebihan.

Pernah terpikir tidak bagaimana aku, kamu, kita, dan mereka bisa sampai seperti sekarang. Padahal terpikir untuk bertemu saja tidak pernah. Takdir begitu hebat ya, bisa mempertemukan orang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Beribu-ribu kilometer, tumbuh dan besar di tempat yang berbeda, tapi akhirnya dipertemukan disatu titik yang sama. Luar biasa Allah itu.

Kalau kita belum bertemu, tidak apa-apa. Katanya untuk merasakan cinta, kita jangan terlalu dekat. Ambil jarak dan ambil waktu, maka rindu itu pasti akan tumbuh meski tidak ditanam.

Jika jarak dan waktu adalah puasa, maka pertemuan kita adalah hari rayanya.


Gdnght
Sedang singgah 5 jam 15 menit di Balikpapan + delay 1 jam 25 menit
18 Januari 2019