Follow Us @soratemplates

Thursday, December 15, 2016

Waktu...



Waktu merupakan hal yang paling sulit dimengerti dan tidak bisa diajak kompromi. Jika waktu berwujud manusia, dia adalah manusia paling egois di dunia. Dia akan terus berjalan kedepan dengan irama yang pasti dan meninggalkan segala macam jejak serta cerita. Dia tidak peduli meski dia dicaci maki hingga dibenci oleh banyak orang. Dia akan terus berjalan meninggalkan kita dengan segala kecemasan akan masa depan yang mungkin dengan masa lalu yang belum terselesaikan. Prinsipnya: jika kita tidak bisa menyamai iramanya dia akan pergi dan tidak akan kembali, tidak peduli seberapa sakit dan kecewanya dirimu.


Waktu selalu memberikan kita batas, segala sesuatu pasti memiliki batas waktu. Kita yang hidup sekarang ini memiliki batas waktu dengan kematian. Kalian yang sedang kuliah memiliki batas waktu dengan kelulusan. Kalian yang sedang menyusun tugas akhir memiliki batas waktu untuk sidang. Kalian yang kerja memiliki batas waktu untuk pensiun. Kalian yang punya utang memiliki batas waktu melunasinya. Ibu yang mengandung memiliki batas waktu untuk melahirkan. Hingga kalian yang lajang memiliki batas waktu untuk menikah.

Apapun yang telah dilewati waktu akan menjadi masa lalu. Sedetik yang lalu sudah menjadi masa lalu. Jika waktu itu teman, dia adalah teman yang tidak bisa diajak bicara dan bukan pendengar yang baik. Sekuat apapun kamu berteriak padanya tidak akan didengar. Hingga kau mati pun dia tidak akan peduli. Pilihannya: berjalan dibelakang waktu atau beriringan dengan waktu.

Hari ini, aku duduk di bangku koridor kampus diantara keramaian orang, menunggu akan sesuatu yang sejak minggu lalu selalu kucari. Menunggu itu salah satu permainan waktu. Aku menunggu memiliki batas waktu dan hari ini adalah batas waktu terakhir aku menunggu. Jika tidak kudapatkan akan segera kulepas. Bukan soal menyerah tapi masih ada yang lebih mudah kudapatkan. Aku menunggu, berdiam diri dan selama selama aku menunggu banyak cerita yang terdengar. Selagi mendengar aku hanya bisa bersembuyi dibalik kata “oh yaaa?” “serius?” “hebat ya” dibalik raut wajah kaget, heran dan kagum. Miris, ternyata banyak sekali hal terlewatkan. Memperbaikan waktu dimasa lalu menjadi hal yang tidak mungkin saat ini. Bagiku sekarang tinggal bagiamana waktu dimasa mendatangku seperti mereka bahkan lebih dari mereka. 

Satu hal yang pasti adalah semua itu sudah menjadi masa lalu ku. Waktu dimasa lalu ku tidak akan bisa kuperbaiki dan kukembalikan. Ternyata waktu ku habis menunggu. Bersyukurlah kalian yang lagi sedang menunggu dengan melakukan hal-hal yang berharga. Sehingga waktu menunggu kalian itu menjadi baik. Aku, kamu, kita, kalian tidak perlu risau akan waktu dimasa lalu itu. Untuk waktu-waktu yang akan datang, jadikanlah sebagai waktu terbaik, perbaiki setiap detiknya. Jika setiap detik waktumu menjadi baik, maka keseluruhan waktumu akan menjadi sangat baik.

Waktu tidak pernah berhenti, waktu akan terus bertambah, hanya saja orang-orang yang akan terus hilang, pergi dan terus berkurang. Aku benci dengan bertambahnya waktu karena aku akan terus kehilangan orang-orang yang sangat amat kusayangi. Tapi kebencianku bisa meredam karena bertemu dengan orang-orang baru, kamu, jodoh [nanti] yang kusayangi dan menyanyangiku pula. Itu adalah bagian yang menyenangkan dari waktu

Ada sebuah tulisan oleh Kurniawan Gunandi yang telah kubaca dan tulisan ini terinspirasi darinya. Dalam tulisannya dia berkata seperti ini: 

Bila kita sedang menunggu seseorang, maka semoga dia adalah seseorang yang bisa membersamai sekaligus menjadi sebab kita nanti sampai ke tujuan. Bila kita sedang menunggu waktu untuk meraih impian, maka semoga ini adalah jeda yang baik untuk kita mempersiapkan diri demi menyambut impian itu datang.

........... Aku percaya bahwa menemukanmu pun sebenarnya bukan soal jarak. Tapi soal waktu, sedekat atau sejauh apapun kamu, bila waktunya belum tepat. Tuhan tidak akan mempertemukan perasaan kita sama sekali.

Suatu hari, ketika waktu itu beranjak naik, menunjukkan kuasanya. Aku tersenyum, karena waktu itu telah tiba. Suatu hari, mungkin di bulan juni, di antara gerimis kota tempat tinggalmu yang dingin. Langkah kaki ini akhirnya sampai di muka rumahmu. Aku tidak pernah menyangka bahwa waktu ini akan tiba. Aku pun tidak menyangka bahwa langkah kaki itu berjalan sejauh ini. Suatu hari, hari itu akan datang. Dan aku sedang menunggu waktu itu, waktu yang pasti datang.

***

No comments:

Post a Comment