Follow Us @soratemplates

Friday, December 15, 2017

Hujan untuk Bumi


Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulang ceritanya.

Hujan namanya. Ku tahu ia dulu sedang jatuh hati, ia dulu sedang menyimpan perasaan untuk seorang laki-laki bernama Bumi, hanya Bumi, bukan yang lain. Bertemu, bercerita, bertegur sapa, bertukar pikiran itu yang dilakukan Hujan terus-menurus. Ku tahu ia begitu pandai menyembunyikan perasaannya tapi tidak begitu baik dalam mengontrol perasaannya. Rona merah pipinya mudah terlihat ketika tersipu malu.

Ada hal-hal kecil dari Bumi yang hanya Hujan yang paham. Kulihat Hujan seperti kembali remaja karena Bumi, lucu sekali. Perasaanya untuk Bumi hangat seperti matahari pagi dan terang benderang seperti matahari siang hari. Siapapun yang mengenal Hujan akan senang dengan keberadaannya karena Hujan penuh dengan perhatian, tidak luput perhatiannya juga untuk Bumi.

Namun suatu hari, perasaan Hujan reda untuk Bumi. Hujan paham betul kalau perasaannya hanya turun tanpa arti ditempat yang salah, tempat yang tidak bisa menumbuhkan apapun. Hujan tumbuh menjadi perempuan berbeda, perpempuan yang berhasil belajar dari kesalahannya.

Dulu Bumi selalu bersembunyi dari perasaan Hujan. Payung menjadi tempat bersembunyinya. Tapi sekarang tanpa payung, Bumi tidak lagi merasakan Hujannya. Bumi sibuk mencari-cari Hujannya. Kemananya Hujannya yang dulu? Mungkin Bumi terlambat menyadari keberadaan Hujan untuknya karena sekarang Hujan sudah reda. Setelah kehilangan Hujannya, Bumi menjadi paham arti dari sebuah pertemuaannya dulu dengan Hujan.

Kini Hujan tahu kalau dia telah bertemu orang baik lalu jatuh hati kepadanya. Dan itu Bumi. Meski pada akhirnya orang baik itu tidak benar-benar ia dapatkan, tapi paling tidak Hujan masih bisa membedakan orang baik mana yang ia sukai. Hujan tahu kalau Bumi sengaja dihadirkan untuk menguji perasaannya, tidak lebih.


Apakah Hujan akan seromantis yang dikatakan orang-orang, yaitu ia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali? Apakah Hujan akan ada lagi untuk Bumi?

No comments:

Post a Comment