Follow Us @soratemplates

Thursday, December 14, 2017

Yang hilang

Tulisan ini dibuat setelah banyak rentetan kejadian yang mungkin sama terjadi kembali padaku. Belum lama aku mengisi blog ku dengan tulisan Bertumbuh~ ini dan tidak lama pula kejadian itu terjadi lagi. Satu hal yang semua orang akan rasakan yaitu kehilangan. Entah kehilangan anggota keluarga, kehilangan benda berharga, kehilangan kesempatan, dan lainnya.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman dekat ku mengalami kehilangan orang paling berharga dalam hidupnya. Aku tahu betul bagaimana rasanya dia saat itu, aku paham bagaimana kondisi dia saat itu. Saat itu yang aku pikirkan hanya bagaimana aku bisa menempatkan diriku untuk kedua kalinya pada kondisi yang sama agar dia nyaman bersamaku. Tidak mudah karena ingatan itu sudah 2 tahun lamanya ku simpan dan pada hari itu aku seperti dipaksa kembali merasakannya. Semua rentetan kejadian itu bisa dikatakan sama persis seperti ku dulu. Pikiranku kacau ketika melihat kembali untuk pertama kalinya jenazah, mendengar keluarga yang menangis, mencium aroma bunga dimana-mana. Tapi tidak boleh, bagaimana mungkin teman yang harusnya menguatkan terlihat lemah dihadapannya, harusnya dia akan kuat karena ada teman-temannya yang menguatkan.

Sejak saat itu aku kembali berfikir kalau kita tidak benar-benar memiliki apapun dan siapapun di dunia ini, semua itu adalah titipan-Nya yang sewaktu-waktu bisa kapan saja diambil. Kita mencintai apapun dan siapapun yang sewaktu-waktu pergi, sewaktu-waktu hilang. Tidak ada yang benar-benar akan tetap tinggal.
***
Hal yang paling menyakitkan dalam kehilangan adalah ketidaksiapan. Kita tidak siap kehilangan sesuatu yang berharga, suatu yang biasanya ada dalam hidup kita, sesuatu yang biasanya muncul di sela-sela aktivitas kita. Adalah mereka, orang-orang yang selama ini hadir pertama kali dalam hidup kita. Kita ingin sekali, mereka terus menerus ada, sayangnya hukum alamnya tidak begitu.

Maka, hari ini saat kita memiliki mereka semua, persiapkan diri kita tidak hanya ketika mereka masih ada. Kita harus bersiap akan kehilangan itu, sehingga ketika satu per satu mereka meninggalkan kita, kita sudah siap menghadapinya. Siap pada sebuah keadaan bahwa kita harus memahami, bahwa kondisi terbaik memang demikian.

Seringnya kita melihat kehilangan dari sisi orang yang ditinggalkan, bukan dari sisi orang yang meninggalkan. Barangkali, yang meninggalkan kita justru lebih bahagia karena mereka mendapatkan tempat-tempat terbaik di sisi-Nya. Kita berdoa dan berharap demikian bukan? Maka berbahagialah.

Bahwa kita memang harus bersiap. Ketika mereka pergi, maka menjadilah amal jariyah yang bisa mereka banggakan di sana. Menjadi anak-anak yang baik, terus mendoakan kebaikan untuk mereka.

Buatlah mereka yang meninggalkan kita, pergi dengan ketenangan. Tenang meninggalkan kita, tenang tanpa khawatir kita kenapa-kenapa, tenang karena mereka percaya bahwa mereka meninggalkan anak-anak yang baik dan berhasil dididik dan akan menjadi amal yang terus mengalir, tenang karena mereka telah menunaikan tanggujawabnya dengan baik kepada kita, amanah-Nya telah dijalankan.
***
Masgun: Tulisan Memaknai Kehilangan

Untuk Dona: aku, kami semua paham tidak ada yang merasa baik-baik saja setelah mengalami kehilangan. Hidupmu tetap akan terus berjalan dengan atau tanpa beliau.Waktu akan membuatmu mengerti keadaan kemarin adalah hal paling terbaik yang dibuat Allah untuk mu. Semua orang akan melewati fase kehilangan, hanya saja aku dan kamu dan banyak orang diluar sana sudah merasakannya sekarang. Lagi-lagi waktu akan mengajarkanmu lebih dalam arti sebuah keikhlasan hingga kamu tidak dapat lagi mendefiniskan ikhlas itu apa. Kesedihan kemarin membuat kamu naik level dari sebelumnya. Semoga aku, kamu, kita semua selalu dalam keadaan bahagia. Be patient ☺

No comments:

Post a Comment